Sunday, April 19, 2026
spot_img
HomeUtamaViral Siswa SMAN 1 Purwakarta Lecehkan Guru, Dedi Mulyadi Dorong Sanksi Edukatif

Viral Siswa SMAN 1 Purwakarta Lecehkan Guru, Dedi Mulyadi Dorong Sanksi Edukatif

Google search engine
JBN Purwakarta- Dunia pendidikan di Purwakarta tengah menjadi sorotan setelah beredarnya video yang memperlihatkan perilaku tak pantas sejumlah siswa SMAN 1 Purwakarta terhadap seorang guru perempuan lanjut usia. Dalam video tersebut, siswa terlihat menjadikan sang guru sebagai bahan candaan, bahkan melakukan gestur tidak sopan yang memicu kecaman luas dari masyarakat. Minggu, (19/04/2026).

Aksi tersebut menuai reaksi keras dari warganet yang menilai telah terjadi kemerosotan nilai etika dan penghormatan pelajar terhadap guru. Banyak pihak menyayangkan lunturnya tata krama di lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi tempat pembentukan karakter.

Menanggapi hal itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melalui akun Instagram pribadinya menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia menilai kejadian tersebut bukan sekadar kenakalan remaja, melainkan sinyal adanya persoalan serius dalam pembinaan karakter generasi muda.

“Sekolah seharusnya menjadi tempat tumbuhnya nilai sopan santun dan penghormatan kepada guru. Ini menjadi refleksi bersama,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga harus menanamkan nilai akhlak, disiplin, dan etika sejak dini, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.

Pihak sekolah sendiri telah mengambil langkah tegas dengan memanggil orang tua siswa yang terlibat. Orang tua disebut telah menyampaikan penyesalan atas perilaku anak-anak mereka. Selain itu, sekolah juga menjatuhkan sanksi berupa skorsing selama 19 hari disertai pembinaan di rumah.

Meski demikian, Dedi Mulyadi mendorong pendekatan sanksi yang lebih edukatif. Ia menyarankan agar hukuman tidak hanya berupa skorsing, tetapi juga diisi dengan kegiatan yang membangun tanggung jawab siswa.

Menurutnya, siswa dapat diberikan tugas sosial seperti membersihkan lingkungan sekolah, termasuk halaman dan fasilitas umum seperti kamar mandi, dalam jangka waktu tertentu. Langkah ini dinilai lebih efektif untuk menanamkan rasa tanggung jawab dan kesadaran atas kesalahan.

“Pendekatan disiplin harus tetap mendidik, bukan sekadar menghukum. Anak-anak perlu dibimbing agar memahami kesalahan dan memperbaikinya dengan tindakan nyata,” katanya.

Ia juga mendorong adanya evaluasi bersama antara sekolah, orang tua, dan lingkungan masyarakat agar kejadian serupa tidak terulang. Peran keluarga dinilai sangat penting dalam membentuk sikap anak, sementara sekolah harus tegas dalam menegakkan aturan dengan pendekatan pembinaan.

Dedi berharap peristiwa ini menjadi momentum untuk memperkuat kembali pendidikan karakter di Indonesia, sehingga generasi muda tumbuh dengan nilai hormat, tanggung jawab, serta kesadaran akan pentingnya menghargai guru sebagai pembimbing kehidupan.(*/Bn)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments

Mohon Maaf anda tidak dapat menyalin artikel ini