Monday, March 9, 2026
spot_img
HomeBogor RayaGreen Dharma Bhakti Pertiwi, Umat Hindu Rayakan Tumpek Uye Sebagai Penguatan Ekoteologi...

Green Dharma Bhakti Pertiwi, Umat Hindu Rayakan Tumpek Uye Sebagai Penguatan Ekoteologi di Pura Jagatkarta

Google search engine
JBN  Bogor – Umat Hindu menggelar Perayaan Hari Suci Tumpek Uye dengan tema “Green Dharma Bhakti Pertiwi untuk Nusantara Jaya” sebagai wujud penguatan ekoteologi dan tanggung jawab keagamaan terhadap kelestarian lingkungan hidup. Kegiatan ini dipusatkan di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, Gunung Salak, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jumat malam, 6 Februari 2026.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si, selaku Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Hindu Kementerian Agama RI, dan dihadiri jajaran Ditjen Bimas Hindu, pimpinan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) pusat dan daerah, tokoh umat, serta umat Hindu dari berbagai wilayah. Antusiasme umat terlihat dari memadainya area pura oleh masyarakat yang hadir.

Dalam keterangannya kepada media, Prof. I Nengah Duija menjelaskan bahwa Green Dharma merupakan kewajiban umat Hindu untuk menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.

“Green Dharma adalah kewajiban kita sebagai umat Hindu untuk membuat bumi ini tetap hijau. Momentum Tumpek Uye ini merupakan pemulihan terhadap binatang dan juga tumbuh-tumbuhan. Ini sejalan dengan arahan Presiden tentang program ASRI, yaitu aman, sehat, resik atau bersih, dan indah,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa kegiatan Green Dharma dilaksanakan dalam dua segmen utama, yakni pelepasan satwa dan penanaman pohon. Pelepasan burung dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia dan dipusatkan di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, sementara penanaman pohon dilakukan dengan target 15 ribu pohon di berbagai wilayah Indonesia.

Selain itu, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penyerahan alat pengelolaan dan penghancur sampah sebagai upaya mengatasi persoalan sampah di rumah ibadah, khususnya saat pelaksanaan upacara keagamaan.

“Sampah sering menjadi momok dalam setiap kegiatan, terlebih di rumah ibadah. Alat ini kita uji coba terlebih dahulu, dan jika efektif, ke depan akan diterapkan di pura-pura lain, termasuk di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat,” tambahnya.

Sementara itu, Ida Made Pidada, selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Bimas Hindu Kementerian Agama RI, menegaskan bahwa Green Dharma merupakan program prioritas Kementerian Agama yang digagas oleh Menteri Agama melalui pendekatan ekoteologi.

“Green Dharma ini adalah turunan dari program ekoteologi yang menjadi bagian dari Asta Protas Kementerian Agama. Tumpek Uye dimaknai sebagai pemulihan terhadap satwa, dan Tumpek Bubuh sebagai pemulihan tumbuh-tumbuhan. Ini adalah implementasi nyata ajaran agama, bukan sekadar simbolik,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan serupa dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia oleh pembimas, lembaga keagamaan, guru, dan penyuluh agama Hindu, serta akan menjadi agenda rutin setiap enam bulan sekali.

Dalam kesempatan tersebut, Bimas Hindu juga mengimbau umat Hindu untuk mengurangi penggunaan plastik dalam pelaksanaan upacara keagamaan dan lebih mengedepankan penggunaan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan.

“Implementasi ajaran agama tidak hanya berhenti pada ritual, tetapi juga diwujudkan dalam menjaga lingkungan, menanam pohon, memelihara mata air, dan melepas satwa. Aktivitas sederhana ini akan berdampak besar bagi 10, 20, hingga 30 tahun ke depan demi keberlanjutan alam untuk anak cucu kita,” pungkasnya.

Melalui kegiatan Green Dharma Bhakti Pertiwi ini, umat Hindu diharapkan dapat menjadi bagian aktif dalam mendukung program pemerintah sekaligus menjaga keseimbangan alam semesta demi terwujudnya Nusantara yang hijau, bersih, dan berkelanjutan. Tukas,” ( HADRI ANDRIANSYAH/*J./*Tim)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments

Mohon Maaf anda tidak dapat menyalin artikel ini