“Tahun Kuda Api 2026. Shin Nian Kuaile (Selamat Tahun Baru Imlek), Gong Xi Fat Cai (Semoga selalu memperoleh Keberuntungan dan Keberkahan), Wanshii Ruyi (Semoga yang terjadi di tahun ini sesuai yang diinginkan) dan Shanti Jiankang (Semoga Selalu Sehat Walafiat),” kata John, Kamis (12/02/2026) di Jakarta.
Menurut pengusaha nasional, Ketum DPP Assosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor (ARDIN) ini, momentum, makna tahun baru imlek selaras dengan dengan keinginan Presiden RI, Prabowo Subianto.
“Menciptakan kerukunan dan keharmonisan dalam keluarga, Kerukunan antar masyarakat Indonesia dan Kerukunan antar bangsa,” ujar John.
Menurut John, bagi masyarakat Tionghoa, Tahun Baru Imlek adalah momentum berkumpulnya semua anggota keluarga ditengah kesibukan, Menciptakan keharmonisan dan kerukunan keluarga besar serta menghormati leluhur.
“Momentum perkuat keharmonisan dan kerukunan dalam keluarga, menghormati dan mengenang jasa-jasa leluhur, Berdoa dan harapan di tahun yang baru lebih baik dan sejahtera dari sebelumnya,” terang John.
Tentang BISMA, John menjelaskan bahwa organisasi ini adalah wadah kerukunan umat beragama yang bergerak dalam kegiatan kemanusiaan, sosial kemasyarakatan yang didirikan bersama (Alm.) KH. Nurcholis Madjid.
“Di BISMA tidak membahas tentang perbedaan akidah /teolog/dotrin atau ajaran Agama-agama tetapi dari antar umat beragama melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Bersama dalam kemanusiaan,” jelasnya.
Ketum Assosiasi Mediator Indonesia ini mengaku mempelajari ajaran berbagai agama dan keyakinan. Menurutnya hal itu guna memahami dan penyesuaian diri kepada warga berbagai umat beragama.
Lanjut John, BISMA didirikan tahun 2000, pasca masa krusial bagi warga Tionghoa di Indonesia (era Reformasi, Peristiwa 1998).
“Sebelumnya tidak diperbolehkan merayakan Imlek, umat Konghuchu tidak diakui, lalu oleh Presiden ke-4 Gus Dur, umat Konghuchu diakui dan diperbolehkan merayakan tahun baru Imlek, dan di tahun 2003 oleh Megawati dijadikan hari libur Nasional,” beber John.
John mengaku ada beberapa falsafah Tionghoa yang dipegangnya dalam suksesi 45 tahun menjadi pengusaha tanpa cacat, tanpa hutang.
“Tidak usah saya sebutkan namanya, ada seorang mentor, suhu (guru) tionghoa saya yang mengajarkan bagaimana etika dan prinsip dalam berbisnis,” ungkapnya.
Berberapa contoh prinsip bisnis yang dipegang John dari sang mentor tionghoanya yakni: “1.000 Sahabat terlalu Sedikit, Musuh Satu terlalu Banyak” (Relationship / jejaring bisnis), “Minum Air harus Tahu Sumbernya” (orang yang bantu kita berbisnis harus dipelihara dan dihormati, jangan dikotori dan disakiti).
“Pandai-pandailah berterimakasih, hilangkan prasangka dan prilaku buruk, berpikir positif jangan menipu, tidak jujur. Peliharalah hatimu karena dari situ terpancar kehidupan,” pesan John.
Sebagai motivasi (Fighting Spirit), lanjut John, Tidak ada masalah bisnis yang tidak dapat diselesaikan, dan bahwa Pemenang itu bukan tidak pernah kalah Tetapi tidak pernah Menyerah. “Never Give Up, jiwa, prinsip Orang Tionghoa itu tidak berhenti berusaha, jadi pengusaha sebelum memperoleh keuntungan,” tandas John. (Dio/*)